Aku memiliki cinta yang tak bisa pupus, meski pernah ku usahakan. Cinta itu tak bisa mati, betapa pun sebuah lembaga perkawinan dan norma - norma telah memaksa ku berdiri nun jauh di luar pagar.
Cinta itu tak pernah ku undang. Tak pernah ku persiapkan kelahirannya. Tak pernah ku mohon - mohonkan kehadirannya pada siapa pun.
Jadi salahkah aku, jika cinta itu bersemayam begitu saja di dalam hati? Cinta itu merdeka. memilih tumbuh dan berkembang di tempat yang diinginkannya. Aku tak kuasa membusukkannya. Sebab ia memiliki rohnya sendiri...
Aku tau kondisiku. Juga kondisi di luar sana.
Maka adalah bohong jika aku tak pernah merasa terganggu oleh duri yang menancap tajam dan menyertai langkahku.
Aku bisa merasakan nyeri begitu nyeri. Juga cemas yang begitu mencemaskan. Sebab, meski cinta yang kumiliki merdeka, tidak demikian halnya dengan AKU.
Bagaimana caraku memerdekakan diriku agar bisa mengeyam cinta yang begitu merdeka dan indah? Berjuang sampai tetes darah penghabisan bak pejuang kemerdekaan demi bangsa dan negara?
Memperjuangkan dari apa? Dari cinta dan pemilik lain yang jelas - jelas legal di mata Tuhan, hukum dan masyarakat?
Jika aku bilang ya, berarti aku sudah tidak waras.
Jika aku bilang tidak, berarti aku harus bersiap - siap menjadi gila.
Kadang aku selalu memikirkan hubungan kami, tapi kenapa harus selalu memikirkan hal yang susah - susah dan ruwet. Toh hubungan kami juga sudah susah.
Waktu yang kami miliki terlalu berharga untuk diisi dengan pembicaraan yang kami tau memang sulit.
jadi mengapa tak kami nikmati saja kebersamaan ini?
Akhirnya jadi memang selalu begitu. Kami enggan memikirkan hal - hal di luar sana yang sebenarnya sangat mengganggu ku.
Aku hanyut bersamanya...
Tak memedulikan aturan dan beberapa hati yang pasti tersakiti....